Rabu, 20 Oktober 2010

Aku Telah Menyalibkan Tuhan

Dikenalkan oleh seorang
teman, Darma tidak
pernah menyangka
bahwa hubungannya
dengan Mercy akan
berujung di pelaminan.
"Tidak terbersit dalam
pikiran saya untuk
menikah, karena saya
masih enjoy dengan
keadaan saya, terus
terang si Mercy yang
mendesak untuk
menikah. Saat itu kami
sudah menjalin
hubungan kira-kira tiga
tahun," ungkap Darma.
Pernikahan tidak
merubah Darma, ia
tetap bertingkah
seperti pria lajang yang
tiap malam pergi
bersama teman-
temannya ke night club
dan menikmati hingar
bingar kehidupan
malam. Narkoba,
minuman keras dan
tidak lupa wanita
menghiasi kehidupan
malam Darma bersama
teman-temannya.
Makin lama, Mercy
makin tersingkir dari
kehidupan Darma. Ia
digantikan oleh
kesibukan pekerjaan,
hobi bahkan wanita lain.
"Saya belajar untuk
memaklumi dia juga,
mungkin dia butuh
waktu untuk sendiri.
Jadi lama-lama, saya lari
ke shopping,"
demikianlah Mercy
mengisi kekosongan di
hatinya. Namun tidak
tahunya hal itu malah
memunculkan masalah
baru.
"Saya sangat marah
kalau lihat tagihan
bulanan itu sangat
besar. Akhirnya
keributan kami berdua
bukan lagi masalah
perselingkuhan atau
hobi saya lagi, tapi
masalah keuangan,"
ujar Darma.
Dalam benak Darma,
jika ia sudah bisa
memenuhi kebutuhan
materi istri dan anak-
anaknya, semua itu
sudah cukup. Ternyata
hal itu bukanlah
segalanya bagi Mercy, ia
ingin perhatian dari pria
yang dicintainya. Tak
menemukan titik temu,
akhirnya pisah ranjang
menjadi kesepakatan
Mercy dan Darma.
Namun kata "cerai"
terus muncul dalam hati
dan pikiran Mercy. Ia
sudah tidak tahan lagi
menghadapi suaminya,
bahkan ia tidak lagi
memikirkan nasib anak-
anaknya jika ia bercerai
nanti. Tapi seorang
sahabatnya
memberikan sebuah
nasihat yang menjadi
titik balik kehidupannya.
"Saya sudah menjadi
istri yang baik..
menunggu dirumah.
Tapi sudah berapa
tahun ngga ada
perubahan," itulah
curahan hati Mercy.
"Belum terlambat,
kamu harus mulai
perubahan dari diri
kamu.."
Sejak saat itu, Mercy
bertobat dengan
sungguh-sungguh.
Setiap hari dimulainya
dengan memanjatkan
doa-doa kepada Tuhan.
"Saya minta ampun
sama Tuhan. Saya juga
minta hidup saya
diubahkan, suami saya
juga diubahkan. Saya
percaya ketika saya
berdoa, akan terjadi
mukjizat."
Mulai dengan
menceritakan kegiatan
kerohanian yang ia ikuti
dan kesaksian teman-
temannya kepada sang
suami, Mercy mencoba
mengajak Darma untuk
pergi ke ibadah.
"Dengan cara itu ia
mengijinkan Tuhan
bekerja. Otomatis
pikiran-pikiran saya
cenderung pada hal-hal
rohani, sekalipun saya
belum terlibat," Darma
menceritakan dampak
kesaksian istrinya di
awal-awal perubahan
hidupnya.
Tapi tidak berhenti
disana, Darma
mengalami sesuatu
yang supranatural. Ia
mendengar suara-suara
yang tidak asing lagi di
dalam hatinya.
"Darma, Aku rindu
sama kamu.."
"Suara-suara seperti itu
sering saya dengar,
saya tahu itu Tuhan
yang berbicara pada
saya. Tapi saya sering
abaikan."
Namun di malam itu,
suara itu
menyampaikan sesuatu
yang belum pernah ia
dengar sebelumnya.
"Darma, sampai kapan
kamu akan menyalibkan
aku ?"
Mendengar suara itu
hati Darma seperti
tersayat.
"Saat itu saya baru
sadar, bahwa jika di
seluruh dunia ini cuma
saya orang yang
berdosa, Tuhan Yesus
tetap turun ke bumi
dan akan mati bagi
saya. Disitu saya minta
ampun, karena apa
yang selama ini saya
lakukan telah menyakiti
hati-Nya. Saat itu saya
bilang sama Tuhan,
kalau saya mau benar-
benar bertobat, dan
tidak mau main-main
lagi."
Doa-doa Mercy benar-
benar di jawab oleh
Tuhan. Darma lambat
laun mulai berubah dan
mulai memberikan
perhatian kepada istri
dan anak-anaknya dan
menjadi pribadi yang
penuh kasih.
"Kalau tidak ada campur
tangan Tuhan dalam
hidup saya, pasti
keluarga saya sudah
berantakan. Tuhan
Yesus itu bukan hanya
penyelamat, tapi Dia
begitu setia kepada
saya. Saat saya
meninggalkan Dia
selama sepuluh tahun
lebih, Dia tidak pernah
lupa kepada saya.
Percayalah kepada Dia,
hanya itu yang
diminta," demikian
Darma mengungkapkan
bagaimana kasih Tuhan
yang telah memulihkan
kehidupan keluarganya.
(Kisah
ini ditayangkan 20
Oktober 2010 dalam
acara Solusi Life di
O'Channel.
Sumber Kesaksian:
Darmaputra & Mercy
Narjadin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar