Rabu, 20 Oktober 2010

Pria Pilihan Orangtuaku Ternyata Seperti Monster

Betty Eljani harus
menerima pria yang
dijodohkan oleh
orangtuanya, tetapi
nyatanya pria tersebut
tidak sebaik yang
diharapkan. Bahkan di
malam pertama
pernikahan mereka,
Betty sudah menerima
perlakukan kasar dari
suaminya.
"Sewaktu saya akan
menghangatkan
makanan yang dibawa
pulang dari resepsi,
tiba-tiba dia marah,
'Apa tidak ada lagi hari
besok!' Disitu saya
mulai bertanya-tanya,
belum juga malam
pengantin, tapi saya
kok sudah menerima
perlakuan begitu
keras?"
Namun Betty mencoba
menepis semua pikiran
buruk yang muncul. Ia
mencoba menghibur
dirinya dengan berharap
bahwa dibalik watak
kerasnya, sang suami
memiliki hati yang baik.
Tapi pada
kenyataannya, monster
di dalam diri suaminya
semakin nyata terlihat.
"Saya lihat suami saya
berselisih dengan
papanya. Saat
dinasehati dia malah
ngamuk, bahkan
papanya akan dilempar
dengan sebuah barang.
Dalam hati saya, 'Sama
papanya saja, papa
kandungnya dia bisa
kaya gitu, apa lagi sama
saya. '"
Kekuatiran Betty
terbukti. Hari-hari
selanjutnya, yang
diterimanya bukan
kebahagiaan namun
cacian, makian dan tak
jarang pukulan. Tak
kuat dengan perlakuan
suaminya, Betty datang
kepada orangtuanya
dan mengadukan
semua tindakan kasar
yang diterimanya dari
pria pilihan orangtuanya
tersebut.
"Mah, pah, suami yang
papa kasih ini bukan
pilihan saya. Ternyata
dia sangat jahat. Ini
masih pengantin baru,
tapi dia sudah
perlakukan saya dengan
kasar. "
Namun perlindungan
yang diharapkan dari
orangtuanya tidak di
dapatnya. Ibunya hanya
menasehati agar ia
mempertahankan
rumah tangganya,
sehingga tidak
mempermalukan
keluarga mereka. Betty
hanya bisa menyesali
nasib dan menangis
atas apa yang
menimpanya. Tekanan
dari suaminya semakin
menjadi-jadi saat
pernikahan mereka
memasuki tahun yang
ketujuh, namun tidak
juga dikaruniai
keturunan. Kekecewaan
terlihat jelas di wajah
suaminya, dan semua
kesalahan ditimpakan
kepada Betty.
"Dia malah menghina
saya, dan selalu marah.
Sehingga hati saya
tawar terhadap suami.
Saya tidak punya
perasaan apa-apa, tidak
memiliki rasa kasih, dan
tidak memiliki rasa cinta
kepada dia. Sampai
saya tidak tahan lagi,
saya minta cerai
kepada suami saya."
Permintaan Betty ini
malah menambah
amarah sang suami,
tanpa pikir panjang lagi
suaminya lari ke kamar
dan mengambil surat
nikah mereka. Di depan
Betty, surat nikah itu
dirobek-robek dan
dilemparkan kepadanya.
Menghadapi semua itu,
Betty hanya bisa
mengadu kepada
Tuhan.
"Saya hanya bisa
berdoa pada Tuhan,
'Tuhan, mengapa
Engkau berikan suami
yang seperti ini?' Kalau
saya dipukul, 'Tuhan,
saya dipukul. Saya
percaya Tuhan melihat.
Jika memang ini suami
yang Tuhan berikan
untuk saya, saya akan
terima. Berikan
kekuatan pada saya.
Tuhan ubahkan suami
saya.' Saya percaya
Tuhan akan pulihkan,
namun saya punya
keyakinan, sebelum
Tuhan pulihkan suami
saya, maka saya harus
dipulihkan lebih dahulu.
Saya harus bisa
menerima suami saya
apa adanya."
Dalam kondisi rumah
tangga yang morat-
marit itu, Betty dan
suaminya bertandang
kerumah seorang
teman. Disana mereka
dinasehati untuk berdoa
dalam kesepakan
meminta keturunan dari
Tuhan. Sungguh ajaib,
sang suami mau berdoa
dan setelah beberapa
tahun mukjizat pun
terjadi, Betty hamil.
Tidak hanya itu, karena
doanya dijawab suami
Betty pun merubah
peranginya.
"Yang membuat saya
mau berubah adalah
doa saya untuk
mempunyai anak di
dengar. Sewaktu istri
saya hamil, disitu saya
baru percaya bahwa
Yesus benar-benar
menolong saya. Saya
berubah seratus persen
untuk percaya pada
Tuhan Yesus," demikian
ungkap Alfianto, suami
Betty.
Doa-doa yang selama ini
Betty panjatkan tidak
pernah sia-sia. Kini
suaminya menjadi
pribadi yang penuh
kasih sayang, dan
semua tindakan kasar
yang pernah
dilakukannya kini tidak
pernah muncul lagi.
"Semua ini karena
Tuhan Yesus. Karena
pertolongan Tuhan
Yesus yang luar biasa.
Walaupun kita sudah
merasa tidak mampu,
tapi kita harus percaya,
Tuhan akan selalu
menolong kita,"
demikian Betty
mengungkapkan rasa
syukurnya. (Kisah ini
ditayangkan 19 Oktober
2010 dalam acara Solusi
Life di O'Channel)
Sumber Kesaksian :
Betty Eljani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar