Senin, 23 Agustus 2010

Edward Chen: Janji Tuhan Indah Pada Waktunya

Awal Pertemuan
Kami
"Saya Edward Chen,
saya seorang penyanyi
dan penulis lagu," ujar
Edward Chen sebelum
membuka
kesaksiannya.
"Saya Agnes Prawoto.
Awal pertemuan kami,
waktu itu saya lagi
temanin mama saya di
Salon. Customer lain
tanya sama saya,
'Kamu langganan disini.
Siapa yang bagus?'
Akhirnya dari ngomong-
ngomong gitu. Mungkin
keceplosan, gak tahu
gimana, dia bilang, 'Saya
baru menikah sama
kakaknya Edward Chen.
Dia bilang 'Edward Chen
tadi nganterin saya loh,
kamu tahu kan Edward
Chen?', Ya aku bilang
aku tahu, pernah
dengar gitu kan," kata
Agnes, istri dari Edward
Chen.
"Setelah mereka selesai
salon, kami jemput istri
kakak saya. Disitulah
mulai terjadi pertemuan
pertama. Saya pikir
cuma orang kepengen
kenal aja. 'Ya udah
Edward, Agnes'. Cuma
gitu-gitu aja sih.. tidak
ada sesuatu yang
spesial saat itu.
Mungkin dia senang
dengerin lagu saya juga
saya tidak tahu,"
ungkap Edward
mengenang awal
pertemuan dengan
Agnes, wanita yang kini
menjadi pendamping
hidupnya.
"Kesannya waktu itu
biasa aja. Saya kan
terus terang gak
seberapa kenal dia,"
tutur Agnes.
Tumbuhnya Benih-
benih Cinta
Satu bulan lebih berlalu,
keduanya bertemu
secara tidak sengaja di
sebuah tempat makan
salah satu mal di
Jakarta.
"Saya kan ngajar ice
skating. Hampir tiap hari
disana. Sebulan lebih,
kami ketemu lagi di
mal" papar wanita
cantik ini. "Pas lagi mau
makan di restoran,
tahu-tahu ada dia gitu,
cuma mungkin dia gak
kenal saya, tapi dia
kayak ada lihat-lihat,"
lanjutnya
"Saya mikir, siapa nih
anak gitu kan dari jauh.
Saya lihat, saya lihat.
Lagi makan, saya lihat
lagi," kata Edward.
"Tapi kan saya kenal
jadi saya sapa, 'Halo Ko.
Vivi gimana kabarnya?'"
"Vivi siapa saya bilang.
Saya pikir nih anak kok
bisa tahu Vivi yang
mana gitu,"
"Saya Agnes dulu yang
dikenalin Vivi di salon.
Baru ngomong-
ngomong, Yah setelah
itu..."
"Tiba-tiba ada sesuatu
di hati saya sepertinya
ngomong gini, 'Edward
minta deh nomor
hpnya'" cerita Edward
dengan cool-nya.
"Ngapain dia minta no
telepon gw. Ada juga
cewek kasih nomor
telepon ke dia gitu kan,"
kata Agnes dengan
wajah penuh tawa.
Nomor ponsel Agnes
akhirnya berhasil
didapat Edward. Sejak
saat itu, hubungan
mereka pun semakin
dekat.
"Setelah ngobrol lewat
sms, lewat telepon.
Akhirnya kita ketemuan
di mal "
"Setelah kita sering
ketemuan lunch gitu
dan ngobrol juga
nyambung akhirnya..."
Hidup Sebagai
Sepasang Kekasih
"Pas lagi makan dia
tanya, kita statusnya
udah pacaran? Karena
kita udah cukup dekat
ya. Sering ketemu juga.
Saya bilang ya kita
sudah pacaran," ujar
Edward. "Saya tinggal di
Jakarta, merantau
sendiri ya. Saya sakit
sendiri"
"Orang tua Edward
tinggal jauh di Sumba,"
kata Agnes.
"Agnes saat itu saya
lihat sebagai orang yang
care. Dia lihat saya
bukan sebagai seorang
public figure. Saya lihat
dia punya cinta yang
tulus. Dia menjadi
tempat saya sharing,
untuk ngobrol"
"Dia ini benar-benar
ingin memperkenalkan
Agnes dengan keluarga.
Waktu itu saya ingin
orangtuanya merestui"
Orangtua Menentang
Hubungan Kami
Apa yang diinginkan
ternyata berbanding
terbalik dengan apa
yang terjadi. Baik
orangtua Edward
maupun Agnes tidak
menyetujui hubungan
keduanya.
"Saat itu memang saat
yang paling berat. Saya
bersikeras untuk terus
jalan sama Agnes. Mau
tunangan lah, mau
married sama Agnes.
Orang tua masing-
masing tidak
memperbolehkan. Saya
tidak tahu apa alasan
mereka, tapi mereka
bilang tetap gak mau
merestui. Tetapi ego
saya muncul, saya
sudah mutuskan ini dan
saya akan jalanin in,"
tutur Edward.
"Kalau kamu tetap ingin
jalanin, yah sudah pilih
dia saja. Gampang,
besok tinggal masuk
koran 'Edward Chen
tidak sendiri'. Jadi biar
bebas, terserah
kau..Terserah saya
seperti itu. Saat itu
saya tutup telepon.
Tetapi setelah itu, saya
terngiang-ngiang
perkataan mami saya
dan saya nangis, 'ini gak
bener'"
"Dari mulut Edward
sendiri keluar hubungan
kita ini mustahil," jelas
Agnes.
"Karena saya tidak bisa
melihat jalan lagi. Saya
tetap harus memilih
orangtua dulu"
"Kalau kita jadi, ini
benar-benar mukjizat
dari Tuhan karena
sudah pasti tidak jadi,"
kata Agnes dengan
berlinang air mata.
"Waktu itu kita benar-
benar melihat keadaan
karena dari keluarga
Edward juga begitu, dari
saya juga begitu. Jadi ya
udah diputuskan,
bahkan dengar kata-
kata Edward pun 'gak
mungkin jalan'"
"Agnes, siap untuk kita
tidak bisa lanjutin lagi?,"
kenang Edward
menahan tangis.
Berserah dan
Mempercayai Janji
Tuhan
"Setiap malam saya
berdoa kayak orang gila
pokoknya ngomong
begitu terus, 'Tuhan,
kalau memang dia jodoh
saya, Tuhan tolong
buka setiap jalan.
Tuhan buka hati orang
tua Edward, orang tua
saya. Tetapi jika ini
bukan dari Tuhan,
Tuhan tolong hapus
perasaan saya sama
Edward"
"Saya down banget.
Saya stres. Setiap hari
habis nyanyi, nangis di
hotel. Sampai akhirnya
saya menulis sebuah
lagu 'Hatiku Percaya'.
Saya juga mau belajar
untuk tetap percaya
bahwa Tuhan itu baik"
"Saya putuskan untuk
balik ke Kanada. Jadi,
saya sudah apply. Saya
sudah diterima karena
saya mau lanjutin
sekolah disana. Jadi
saya telepon orangtua
Edward, 'Ai gak usah
kuatir. Sebentar lagi
Agnes ke Kanada. Jadi,
Agnes tidak akan
ganggu anak Ai lagi"
Tuhan Akhirnya
Persatukan Kami
Kembali
"Singkat cerita, tiba-
tiba waktu saya pulang
ke NTT. Saya sudah
tidak mau ngebahas
tentang Agnes lagi
kepada orang tua saya.
Saya belajar untuk
hidup normal kembali,
tetapi tetap tidak bisa
menipu raut wajah
saya yang sedih..Saya
tidak ada gairah hidup.
Entah mengapa
orangtua saya tiba-tiba
bertanya, 'Gimana
sudah tidak
berhubungan dengan
Agnes lagi?i, saya
jawab 'Sudah ngga'.
'Kamu masih sayang
sama Agnes dan Agnes
masih sayang sama
kamu?' Saya bilang
'Sebenarnya iya, tidak
bisa menipu, iya'. Terus
orang tua saya bilang,
'Ya udah coba telepon
Agnes"
"Dia bilang gini, 'Apa
kamu benar-benar
sayang anak saya?'
Saya bilang iya saya
sayang kalau tidak,
saya tidak akan seperti
ini. Terus dia bilang
kalau kamu benar-benar
sayang anak saya,
kamu sekali-kali jangan
kecewain anak saya.
'Kamu bener bisa jaga
anak saya?' kata dia.
Saya bilang 'Bener Ai,
aku bener-bener
sayang, aku bener-
bener cinta.'
"Segala sesuatu indah
pada waktunya.
Hubungan yang udah
tidak mungkin. Jadi
Agnes mikirnya ini
bener-bener Tuhan. Ini
pasti campur tangan
Tuhan Yesus. Segala
sesuatu yang tidak
mungkin, tahu-tahu
Tuhan bisa merubah
semua itu jadi
tunangan, menjadi
menikah, dan bahkan
Tuhan kasih bonus kita
menikah di Kana.
Padahal kita gak ada
kepikiran kalau kita
bakalan menikah gitu,
tahu-tahu Tuhan sudah
bikin kita merasakan
sesuatu yang tidak kita
pikirkan. Bila Tuhan
sudah persatukan kita,
Tuhan pasti jaga
kesatuan keluarga kita.
Bahkan tidak hanya itu,
Dia bimbing setiap hari
yang kita lewati. Saya
minta tolong sama
Tuhan, 'Tuhan, jadikan
keluarga saya berkat di
luar"
"Tuhan Yesus yang
sanggup merubah yang
buruk menjadi baik dan
selalu menjadikan itu
indah pada waktunya,"
ujar Edward Chen
menutup kesaksiannya.
(Kisah ini ditayangkan
23 Agustus 2010 dalam
acara Solusi Life di
O'Channel).
Sumber Kesaksian:
Edward Chen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar