Senin, 30 Agustus 2010

Tuhan tlh menyelamatkanku dr kecelakaan di jln tol, Di antara 10 org yg selamat hanya 1 org

Pada tanggal 14 Januari
2003, aku pergi ke
pemakaman di Bogor. Nama
pemakaman itu Gedung
Gadung. Aku pergi kesana
karena aku ingin membantu
Kukuh (adiknya Mamah)
karena Kukuh-ku bekerja di
Rumah Duka Yayasan Jabar
Agung Jelambar.
Kukuh-ku bekerja sebagai
biokong (orang yang
mengurus sembahyang-an).
Dan pada tanggal 13 Januari
2003, hari Senin malamnya
aku pergi ke Rumah Dukua,
karena malam itu banyak
sekali orang yang melayat.
Kukuh-ku bilang sama
aku, "Besok mau ikut tidak
jalan-jalan ke Bogor?".
Langsung saja aku
menjawab, "Iyah, aku mau
ikut Kukuh, sekalian bisa
ngebantuin Kukuh. "
Keesokan harinya
sesampainya di Gedung
Gadung, Bogor; aku
kehilangan Kukuh-ku.
Keluarga orang yang
meninggal mencari Kukuh-ku,
dan menanyaiku
keberadaannya. Tapi aku
menjawab, "Aku tidak tahu
Kukuh-ku kemana." Dan
orang itu marah-marah
kepadaku.
Aku mencari-cari Kukuh-ku.
Selama 15 menit, aku
mencarinya sampai akhirnya
aku berhasil menemukan dia
juga. Tapi aku
menemukannya tidak
langsung dekat, tapi dengan
jarak yang sangat jauh.
Kukuh-ku melambai-
lambaikan tangannya
kepadaku. Disitu perasaan
hatiku mulai merasa tidak
enak.
Sewaktu pulang dengan
Kukuh-ku, tidak ada mobil
yang pulang menuju Jakarta.
Lalu Kukuh-ku berinisiatif
mengajakku naik mobil
Ambulance saja, yang pulang
ke arah Jakarta.
Pulanglah aku naik mobil
Ambulance Yayasan Jabar
Agung itu. Sewaktu aku mau
pulang, mobil itu beranjak
dari tempat parkirnya dan
menabrak kuburan orang
lain. Perasaan hatiku
sangat-sangat tidak enak
sekali.
Yach, sudah deh... aku
berdoa saja sama Tuhan.
Namun, suatu kejadian yang
buruk terjadi! Saat waktu di
jalan tol Jagorawi, mobil
Ambulance yang kutumpangi
itu mengalami pecah ban
yang fatal sekali, sampai-
sampai mobil itu keluar jalur,
hingga berlawanan arah ke
jalur yang menuju ke Bogor.
Tapi sebelum mengalami
pecah ban itu, aku , Kukuh,
dan 7 orang yang tukang
gotong peti; semuanya
sedang tidur. Lalu ada
seseorang yang menggampar
pipiku. Aku segera bangun
dari tidurku, dan melihat
orang yang ada di dalam
mobil. Semuanya sedang
tidur, tidak mungkin supir
yang menggampar pipiku.
Kemudian aku tidur lagi dan
sama seperti yang pertama
aku alami. Tiba-tiba ada
yang menggampar pipiku lagi!
Aku kembali terbangun dan
kudengar ada suara
seseorang yang berkata
padaku. Katanya, "Hei,
keluarlah! Mobil ini mau
terbalik! Kamu mau hidup apa
mau mati ?"
Lalu aku menjawab kepada
suara itu. Kataku, "Memang
ada apa?"
Suara itu berkata lagi,"Mobil
ini akan terbalik! Kamu
cepat-cepatlah keluar dari
mobil ini !"
Sahutku,"Aku keluarnya
darimana?"
Kata suara itu,"Keluarlah
dari jendela mobil itu! Kamu
akan selamat !"
Aku mengikuti apa kata
suara yang telah berbicara
padaku. Aku membuka kaca
mobil itu, dan diluar aku
melihat jalanan dari ujung ke
ujung penuh sekali dengan
aspal.
Dengan setengah ketakutan,
aku berkata kembali kepada
suara itu;
kataku, "Bagaimana aku
dapat keluar dari sini?
Sedangkan jalanan ini dari
ujung sampai ujung penuh
dengan aspal ?"
Suara itu
menjawab,"Keluarlah segera!
Itu bukan aspal, tetapi air!"
Tanpa ragu lagi, aku
mengikuti apa kata suara itu
yang aku tidak tahu
datangnya darimana. Aku
melompat dari kaca mobil itu,
dan apa yang terjadi, aku
tidak mengalami cedera atau
luka apapun.
Ketika aku sudah selamat,
aku baru ingat karena di
dalam mobil itu ada Kukuh-
ku. Aku berlari mengejar
mobil itu, namun akhirnya
terlambat. Mobil itu mengalami
pecah ban kanannya dan
keluar jalur ke arah Bogor
yang kemudian ditabrak oleh
3 mobil. Kulihat satu orang
mental terlempar keluar dari
mobil Ambulance yang
kutumpangi itu. Orang itu
penuh dengan lumuran darah
tepat di depanku. Aku
kemudian pingsan karena
aku tidak tahan melihat
darah yang bercucuran di
depan mataku. Kejadian ini
kira-kira kurang lebih terjadi
sekitar pukul 12.30 siang.
Pada pukul 16.00 sorenya,
aku sadar. Dan terbangun
dari tidur, aku mendapati
diriku berada di rumah sakit.
Ada 2 orang tukang gotong
peti yang selamat. Aku
bertanya pada salah satu
dari orang tersebut.
"Pak, dimana Rudi (Kukuh-
ku)?"
Dia menjawab,"Rudi telah
meninggal."
Mendengar jawaban itu, aku
jadi lemas.
Di Rumah Sakit Bogor itu, aku
sempat ribut dengan suster.
Karena waktu itu aku sangat
haus, ingin sekali minum
tetapi tidak diberikan
minuman. Aku keluar dari
rumah sakit itu dengan
perban yang membalut di
tangan kiriku untuk membeli
sebotol air minum, sehingga
suster yang melihatku keluar
dari kamar, menghampiriku
dan berkata,"Kamu ini tidak
tahu diri ya. Sudah tahu lagi
sakit, tapi malah jalan-jalan
keluar. "
Aku membela diri,"Kenapa
suster tidak mau
memberikanku minum?"
Suster itu hanya berdiam diri
saja.
Kira-kira sekitar pukul 18.00
sore, aku dipindahkan ke
Rumah Sakit Sumber Waras.
Saat akan berangkat ke
Rumah Sakit Sumber Waras,
salah seorang tukang gotong
peti itu meninggal dan berada
di sampingku. Aku sangat
ketakutan sekali. Kemudian
dokter memindahkanku yang
tadinya aku duduk di
belakang, aku disuruh duduk
di depan. Dokter itu
berkata, "Jimmy, kamu duduk
di depan saja ya. Karena
kamu tidak parah. Hanya
tangan kiri kamu yang
patah. "
Aku menjawab,"Ya sudah,
dokter... Aku tidak apa-apa
kok. "
Sekitar pukul 19.00 atau
20.00 malam, aku sampai di
Rumah Sakit Sumber Waras.
Sesampainya disana, aku
ditanyai oleh dokter, apakah
ada yang bisa saya hubungi?
Aku memberitahu dokter
untuk menghubungi rumah
Kukung aku saja, kalau tidak
untuk menelpon ke Rumah
Duka Yayasan Jabar Agung. "
Pukul 21.10 malam, mamaku
datang ke rumah sakit untuk
menjemputku pulang. Mamaku
datang menjemput bersama
Koko Budi, iih dan suaminya.
Aku diajak pulang dan hanya
berobat ke sen see, karena
tulang tangan kiriku reatak
atau nyengsol tulangnya.
Dalam satu bulan, aku
menjalani berobat ke sen
see sehingga akhirnya aku
sembuh.
Aku mengucapkan terima
kasih kepada Tuhan Yesus
Kristus yang telah
menyelamatkanku dari
kecelakaan ini. Tuhan
mempunyai rencana yang
indah bagi hidupku, karena
di dalam mobil itu ada 10
orang, tetapi yang selamat
aku sendiri, sedangkan
Kukuh-ku telah meninggal.
Aku sangat sedih karena aku
pergi bersama dia, tetapi
waktu pulang, Kukuh-ku
tidak bersamaku lagi.
Tuhan Yesus, terima kasih
atas keselamatanMu bagi
hidupku, Tuhan.
Tuhan ku mau melayaniMu
sampai aku mati nanti,
Tuhan.
Tuhan ku mau melayaniMu
bukan untuk dilayani. -
Jimmy
SUMBER - Buletin
Kampung Baru Maret
2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar