Senin, 16 Agustus 2010

Kesaksian: Saya Ingin Hidup ( sumber informasi dari Nesya Christina ) (I)

Kesaksian: Pada
kesempatan kali ini saya
ingin berbagi kesaksian
yang sudah sering saya
ceritakan kepada
teman-teman saya dan
menjadi gambaran hidup
kuasa Tuhan.
Saya adalah seorang
anak perempuan dari
keluarga yg terpecah
belah dan tentunya saya
masih mengingat
bagaimana sewaktu
saya berumur 3 tahun,
saya berada dalam
kondisi pertengkaran
hebat antara ayah dan
ibu saya yg sampai saat
ini menjadi kenangan
terburuk yg melekat
dalam ingatan saya.
Mungkin banyak
orangtua tidak
menyadari, bahwa daya
ingatan anak kecil itu
tersimpan dan terkubur
dalam menjadi luka yg
saya sendiri kadang
tidak sadari.
Saya diasuh oleh nenek
dari pihak ayah saya,
ayah dan ibu saya pergi
meninggalkan saya
karena mereka
mengejar cinta baru
mereka. Saya yg masih
berumur 3 tahun harus
beradaptasi dengan
kakak tiri dan rumah yg
sangat asing bagi saya.
Ditambah lagi saya
adalah anak dari istri
kedua yg tidak direstui
keluarga. Tentunya
saya yg masih kecil itu
tetap memiliki intuisi
bahwa saya tidak
disenangi ketika berada
di rumah tsb.
Hari demi hari, dan
tahun demi tahun saya
dibesarkan, saya
mengalami depresi dan
luka yg terus terpupuk
dalam diri saya yaitu cap
sebagai anak "broken
home", di rumah itu
saya hanya dekat
kepada nenek dan tante
(yg merupakan adik
papa saya), tiba-tiba
saja tante yg selama ini
saya anggap sebagai
ibu, ternyata hamil dan
memiliki anak, saya yg
saat itu duduk di kelas 2
smp, dan sedang masa-
masanya ingin
diperhatikan, sangatlah
terguncang. Di benak
saya hanya berpikir
" bagaimana nasib saya
kelak? Siapa yg akan
menyayangi saya? Saya
akan ditinggalkan
seperti ayah dan ibu
saya meninggalkan
saya ?" dan tentunya
satu kata dari itu semua
adalah "saya cemburu".
Saya yg saat itu sedang
kurang perhatian
membuat ulah, saya
bolos sekolah,
berbohong agar
mendapat uang lebih,
kabur dari les saya, dan
keras kepala. Saya
masih ingat sekali,
ketika saya meminta
uang kepada nenek
saya, dan saya hanya
diberi uang lima ribu
saya langsung
membuang uang tsb.
Kesalahan terbesar
saya yg hingga saat ini
masih saya tangisi.
Semua perbuatan yg
saya lakukan itu
sebagai bukti
pemberontakan bahwa
saya ingin diperhatikan
Lalu pada suatu hari
saya bertengkar hebat
dengan tante dan nenek
saya. Saya yg sudah
tidak sanggup berperan
nakal lagi, ketika
dimarahi, hanya bisa
diam dan menangis,
bahkan tenaga melawan
pun sudah tidak saya
miliki. Ketika saya masuk
kamar, saya melihat ada
racun serangga, lalu di
benak saya terngiang,
" kalau saya minum,
maka semua akan
beres, tante saya bisa
hidup bahagia tanpa
perlu mengkhawatirkan
saya, saya anak yg
tidak diharapkan ini
lebih baik pergi saja,
saya tidak ada
gunanya,dan tidak
memiliki apa-apa " Dan saya
pun meminum
racun itu. Beberapa
lamanya saya minum
racun itu, tiba-tiba saja
pandangan saya buyar,
semua suara menjadi
asing, saya ketakutan,
dan bayang-bayang
indah terlintas di mata
saya "SAYA MASIH INGIN
HIDUP" saya memiliki
impian yg selama ini
tidak pernah saya
sadari karena tertutup
oleh rasa cemburu dan
serakah. Saya
merangkak di kasur,
berteriak dan meminta
tolong diselamatkan,
saya berusaha
memuntahkan isi perut
saya, saya masukkan
tangan saya ke dalam
mulut saya, tapi semua
itu tidak berhasil, saya
drop dan langsung
terjatuh di lantai.
Keluarga saya langsung
membawa saya ke UGD
dan di situ saya melihat
tante dan nenek saya
menangis, tante saya yg
sedang hamil berlarian
menemani saya dibawa
ke UGD, memegang
tangan saya yg
ketakutan dan lemah,
sedangkan nenek saya
hanya bisa menangis
menepuk-nepuk
dadanya, seolah-olah
menyalahkan dirinya.
Malam itu adalah malam
terpanjang bagi saya,
saya kesakitan karena
selang sudah memasuki
hidung dan mulut saya,
saya pun tidak bisa
bicara dengan jelas,
saya hanya bisa
berkata sepatah-
sepatah "saya haus" itu
yg saya katakan pada
tante saya, tante saya
memohon kepada suster
utk memberi saya minum,
tapi suster menolak
karena racun belum
sepenuhnya keluar dari
badan saya. "saya
kesakitan, tolong
lepaskan selang ini,"
tante saya pun memohon
kembali agar dilepaskan,
tapi suster menolak. Dari
sini saya sadar, bahwa
yg merasakan
kesedihan atas sakit
dan hausnya saya,
hanyalah orang yg
memiliki cinta yg begitu
mendalam untuk saya.

--
BLESSING FAMILY CENTRE SURABAYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar