Minggu, 22 Agustus 2010

Kematian Ibu Membuat Aku Tidak Waras

Semenjak masa
mudanya, Dorkas
sangat tergantung
pada orangtuanya,
terutama ibunya.
Bahkan ketika ia sudah
menikah dan memiliki
anak, ia masih tinggal
bersama ibunya dan
bergantung pada
ibunya.
Pada suatu hari,
kejadian yang dapat
mengubahkan ibunya
pun terjadi. Karena ingin
menjemur popok
cucunya, sang nenek
tertusuk paku berkarat
dihalaman rumahnya.
Dorkas segera
membawa ibunya ke
dokter untuk diperiksa.
Ternyata ibunya
terkena infeksi karena
paku itu dan dinyatakan
terkena tetanus.
Kakinya mulai bengkak
dan demam.
Karena infeksi yang
sudah parah, akhirnya
ibunya meninggal dunia.
Ketika mendengar
kabar memilukan itu,
Dorkas tidak percaya, ia
tidak dapat menerima
hal itu. bahkan ia
sampai pingsan.
Ia merasa ini adalah
kesalahannya. Karena
menjemur popok
anaknya, dan tertusuk
paku, ibunya jadi
meninggal. Ia mulai
menyalahkan keadaan.
Suami dan
pernikahannya pun ia
jadikan alasan kematian
ibunya.
Mulai saat itu Dorkas
tidak bisa tidur dan
tidak mau makan. Ia
mengalami
kegoncangan jiwa dan
kelemahan fisik. Ada
saat dimana tangan
dan kakinya kram dan
tidak bisa bergerak.
Saat mulai normal lagi,
Dorkas mulai berbicara
sendiri. ia melupakan
suami dan anaknya dan
sering mendengar
suara-suara yang
menganggunya.
Suaminya membawa
Dorkas ke dokter untuk
mendapatkan berbagai
pengobatan untuk
kesembuhannya.
Namun tak ada satupun
yang membuahkan
hasil. Dorkas semakin
kacau dan tidak waras.
Bahkan ia manganggap
suaminya adalah musuh
yang harus dibunuhnya.
Suatu hari, ia
merencanakan
pembunuhan terhadap
suaminya. Ia ingin
menusuk suaminya
dengan pisau. Tetapi
karena suaminya tahu
bahwa istrinya sedang
stress, ia pun dapat
mengagalkan rencana
istrinya itu. karena
gagal, anaknya pun siap
menjadi sasaran. Tetapi
harus gagal lagi karena
suaminya dapat
mencegahnya.
Pada saat keadaan
sedang normal, Dorkas
teringat untuk berdoa.
Tetapi doanya hanya
untuk formalitas saja.
Karena ia merasa
bahwa Tuhan tidak
sayang padanya. Ia
ingin supaya ia matio
saja. Justru pada saat
ia berdoa, ia mendengar
suara. Ia teringat satu
ayat: "Allah turut
bekerja dalam segala
perkara, yang
mendatangkan
kebaikan bagi orang
yang mengasihi-Nya"
Ia lalu menangis dan
meminta ampun pada
Tuhan atas apa yang
sudah ia perbuat
selama ini. saat itu ia
mulai kembali
semangat. Tuhan
mengangkat Dorkas
dan akan dibawa Tuhan
untuk melayani disuatu
tempay. Dorkas pun
setuju akan hal itu.
Saat itu juga, Dorkas
mulai berpikir hal-hal
positif. Walaupun
fisiknya belum sembuh
tetapi jiwanya sudah
sembuh. Perlahan tapi
pasti, ia dipulihkan. Ia
menyadari bahwa
segala sesuatu diatur
oleh Tuhan. Dorkaspun
akhirnya dapat
menerima kepergian
mamanya.
Saat ia sudah
dipulihkan, iapun
melayani orang yang
sakit jiwa. Tuhan
memberikan mukjizat
padanya dan
menyembuhkan semua
penyakit dalam
hidupnya. (Kisah ini
ditayangkan 19
Agustus dalam acara
Solusi Life di O'Channel).
Sumber Kesaksian:
Dorkas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar