Sabtu, 14 Agustus 2010

Kedamaian Karena Pengampunan (Kesaksian anak Jendral korban G30SPKI)

Sumber Kesaksian: Riri
Panjaitan
Apa kira-kira yang anda
lakukan jika orang tua anda
diculik dan dibunuh di depan
mata anda sendiri? Riri
Panjaitan, putri almarhum
Jenderal D.I. Panjaitan akan
menuturkan kisah tragis
pembunuhan ayahnya.
Ketika itu pukul 3 pagi.
Waktu terjadi pendobrakan
pintu pertama kali, saya ada
di dalam rumah, bersama
keluarga. Saya sedang
berada di dalam kamar. Dan
tiba-tiba mereka meletuskan
senapan dan menembak ke
arah rumah kami. Selama
beberapa saat peluru-peluru
mereka menghujani rumah
kami. Mereka masuk ke dalam
rumah dan menyuruh ayah
saya menemui mereka atau
mereka akan meledakkan
rumah kami. Saya ingat waktu
itu ayah keluar dengan
berpakaian militer lengkap
sebagai angkatan darat.
Saya dengar ayah saya
berbicara, rupanya ayah
saya meminta waktu untuk
berdoa. Saat itu ayah saya
ditembak, diberondong
dengan beberapa peluru.
Lalu jenazah ayah diseret
dan dilempar ke lubang yang
dalamnya hampir 2 meter.
Saya berlari ke depan dan
saya melihat darah yang
kental … Saya ingin pegang,
saya ingin peluk papa saya
tapi tidak ada … Sepertinya
saat itu saya betul-betul
mengalami kecewa, dan
sungguh berat untuk
seorang anak berumur 8
tahun seperti saya.
Marieke Panjaitan (Istri
Mayjen Anumerta DI
Panjaitan) : Waktu itu Riri
masih kecil sehingga dia
belum mengerti arti kejadian
itu. Tapi sesudah dia melihat
banyak orang datang ke
rumah, ada yang menangis
juga, dan dia menjadi heran,
apa yang sudah terjadi. Baru
setelah itu dia tahu papanya
sudah tidak ada lagi.
Saya merasa sangat
kehilangan … Orang yang kita
cintai diambil seperi itu,
diseret seperti binatang,
dibantai seperti binatang…
Tapi saya tidak mendapat
jawaban dari siapapun
mengapa ini harus terjadi.
Saat itu saya merasakan
tidak adil, dalam hidup saya
ada sesuatu yang tidak adil,
dan itu yang berbekas di hati
saya.
Saya bertambah besar dan
peristiwa G30SPKI tahun 1965
itu semakin jauh saya
tinggalkan, tapi tidak ada
satu titik pun yang bisa saya
lupakan. Saat-saat itu saya
merasa begitu menderita, di
dalam batin saya, sekalipun
keadaan fisik saya baik
sekali.
Marieke Panjaitan (Istri
Mayjen Anumerta DI
Panjaitan) : Dulu dia selalu
kelihatan gembira, karena
setiap papanya pulang,
selalu menemani anak-anak.
Tapi setelah peristiwa itu dia
jadi pendiam, dia merasakan
pahitnya peristiwa itu. Dan
sebagai orang tua saya
merasakan penderitaan yang
sama dengan dia.
Kalau saya melihat suatu
persoalan yang tidak pada
tempatnya, saya merasa
seperti ada sesuatu yang
tidak bisa saya tahan. Saya
susah untuk bergaul dan
saya susah untuk
menyesuaikan diri,
temperamental, sangat sulit
sekali bagi saya untuk
mengekspresikan apa yang
saya inginkan, sulit sekali
untuk saya merasa nyaman
dan damai … Seperti mau
berontak hanya tidak tahu
mau berontak kepada siapa.
Dan kalau saya ingat masa-
masa itu, saya merasa ada
kekejaman, ada
ketidakadilan dan kekejian …
saya merasa manusia itu
jahat sekali ya …
Penampilan luar saya bisa
menipu. Saya bisa tertawa,
saya bisa hidup sehari-hari
seperti anak-anak lain,
gembira, tapi hati saya tidak
bisa sembuh dari luka itu.
Tidak ada obat yang bisa
mengobati luka karena
peristiwa itu terjadi dalam
hidup saya.
Lalu saat saya pergi ke
Eropa, saya bertemu dengan
seorang teman yang bisa
berbicara tentang Tuhan
dengan sangat dalam. Saat
itu mungkin saya sudah
dijamah Tuhan tapi saya
sepertinya tidak mengerti
karena saya tidak
mempunyai pengetahuan
tentang Tuhan. Selama
kurang lebih 4 tahun saya
mencari, akhirnya saya
bertemu dengan Tuhan
secara pribadi.
Saat itu saya dalam puncak
kesedihan saya dan saya
menangis, saya putus asa
dan ingin mati, Tuhan datang.
Tiba-tiba saya lihat langit
terbuka, dan terang itu
masuk ke kamar. Saya takut,
saya pikir saya sudah mati,
karna saya minta mati maka
saya mati. Saya lihat ada
seseorang menghampiri saya
dan Dia begitu besar, begitu
terang… Dia merentangkan
tanganNya dan berkata,
" Riri, kau harus mengampuni,
engkau harus memberikan
pengampunan kepada orang-
orang yang kamu benci. "
Saya katakan tidak mungkin.
Dia menjawab, "Ya mungkin.
Karena jika engkau
melepaskan pengampunan,
maka Aku, Tuhan Yesus
akan mengampuni engkau.
Riri, apakah engkau mau
mengampuni ?"
Ketika Tuhan berkata seperti
itu, maka seperti ada video
dalam pikiran saya, peristiwa
G30SPKI itu, saya melihat diri
saya, saya melihat peristiwa
itu terulang. Dan Tuhan
bilang, "Jikalau engkau tidak
mengampuni peristiwa itu,
Aku tidak akan mengampuni
engkau. " Lalu saya
katakan,"Saya mau
mengampuni, Tuhan. Saya
mau mengampuni pembunuh
papa …" Dan saya rasakan
Tuhan bekerja di dalam
kata-kata saya itu, Tuhan
seperti masuk dalam batin
saya yang terdalam, dan Dia
cabut semua akar kebencian,
kepahitan, amarah, dari
dalam hati saya. Semua
tercabut seperti akar wortel.
Saya merasa damai masuk ke
dalam hati saya dan saya
merasakan … saya tidak
pernah merasakan hidup
seperti itu.
Saya sadar bahwa Tuhan
sudah menampakkan diriNya.
Dan sejak itu saya mulai
hidup dengan bersukacita,
tidak lagi bersedih-sedih …
Dia sembuhkan saya, Dia
baharui hati saya, Dia beri
saya kuasa kebangkitan.
Hidup saya sudah berubah,
saya tahu tujuan saya, saya
tahu ayah saya sudah duduk
bersama Bapa di Sorga, tidak
ada penyesalan, tidak ada
kebencian, tidak ada akar
kepahitan, tidak ada dendam,
yang ada hanya damai
sejahtera, ucapan syukur.
Kiranya Tuhan boleh
memakai saya untuk mereka
yang membutuhkan
kesaksian saya.
"Dan jika kamu berdiri
untuk berdoa,
ampunilah dahulu
sekiranya ada barang
sesuatu dalam hatimu
terhadap seseorang,
supaya juga Bapamu
yang di sorga
mengampuni kesalahan-
kesalahanmu. " (Markus
11:25)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar