Selasa, 03 Agustus 2010

Jacky Bonano: Ketika Tuhan Menyentuh Hatiku (part 1)

Jacky Alexander, yang
lebih dikenal dengan
nama Jacky Bonano,
adalah seorang pemuda
yang telah mengenal
dunia kekerasan sejak
usia remaja. Jacky
belajar karateka
semenjak remaja dan di
sana ia mendapatlkan
banyak hal, diajar
secara keras untuk
menjadi seorang laki-
laki di antara laki-laki.
Saat itu untuk sekali
push up, Jacky bisa
mencapai hitungan 250
dan sekali sit up bisa
sampai hitungan 2500
(dua ribu lima ratus....
beneran lho). Fisik Jacky
benar-benar dilatih
untuk menjadi seorang
petarung. Setiap hari ia
dilatih untuk fighting.
Ditambah lagi kakaknya
juga mengikuti kegiatan
karate yang sama
dengan Jacky sehingga
mereka berdua sering
diadu oleh guru
karatenya.
Di usia remaja Jacky
sudah tinggal dengan
keluarga angkat.
Mereka memberikan
pendidikan yang terbaik,
penuh kasih sayang
bahkan lebih perhatian
bila dibandingkan
dengan keluarga
kandungnya. Jacky
sungguh-sungguh dapat
merasakan bahwa
kedua oranghtua
angkatnya begitu
mengasihi dirinya
dengan segenap hati
mereka. Namun
kebahagiaan itu hanya
sementara karena
kedua orangtua
angkatnya harus
berpisah dan
kesendirian menjadi
bagian dari jalan hidup
Jacky.
"Sewaktu aku kelas 1
SMA, mereka bercerai,
mereka mulai sibuk
dengan urusannya
masing-masing," ujar
Jacky mengisahkan
masa kelabu dalam
hidupnya.
Peristiwa itu membawa
Jacky kembali kepada
memori masa kecilnya
yang tidak pernah bisa
ia lupakan. Kedua
orangtua Jacky bercerai
ketika ia masih kecil.
Keributan yang kerap
timbul di antara kedua
orangtua kandungnya
saat itu adalah karena
perselingkuhan, dan
akhirnya mereka
memutuskan untuk
bercerai karena tidak
dapat menyelesaikan
masalah tersebut.
Kekecewaan, amarah
dan sakit hati
merenggut semua
kepolosan yang ia miliki.
Dunia Jacky berubah
menjadi dunia yang
penuh dengan
kekerasan. Perkelahian
menjadi hal yang biasa
bagi Jacky karena ia
sendiri sudah terbiasa
menerima pukulan dari
pelajaran karate yang
diikutinya.
Kebebasan dan keliaran
menjadi bagian hidup
Jacky selanjutnya.
Seperti kuda yang lepas
dari kandangnya, ia
menikmati kehidupan
mencari kebahagiaan.
Bagi Jacky, teman
adalah keluarganya
yang paling dekat saat
itu. Jadi apapun yang
dilakukan oleh teman-
temannya akan
dilakukan juga oleh
dirinya. Tidak ada yang
dapat melarangnya.
Semua perilaku Jacky
dimulai dari rasa benci
yang timbul di dalam
hatinya, kebencian akan
segala hal yang ada di
jalan hidupnya. Jacky
membenci kedua
orangtuanya yang
harus bercerai karena
masalah orang ketiga,
dan di usia remaja
kembali orangtua
angkatnya harus
bercerai. Semua
keadaan itu membuat
Jacky tidak perduli akan
lingkungan dan
kehidupan keluarganya
lagi. Baginya dunia yang
dijalaninya sendiri
adalah cara hidup yang
terbaik. Jacky
menemukan kehidupan
baru bersama dengan
teman-temannya.
Gemerlap dunia hiburan
dan kehidupan malam
membuatnya jatuh
dalam narkoba dan
perkelahian. Kehidupan
Jacky pun tidak menjadi
semakin baik, karena
dunia yang dihidupinya
saat itu justru penuh
dengan godaan yang
akan menyeretnya
semakin dalam ke
dalam kehancuran.
Jacky bisa berada di
diskotik dari hari Jumat
dan sampai Senin dia
belum beranjak dari
diskotik itu. Narkoba
yang dikonsumsinya
pun bisa mencapai 25
butir saat itu. Halusinasi
memenuh pandangan
Jacky saat itu. Ia
melihat semua orang
yang ada di diskotik itu
memegang pisau dan
ingin menusuk dirinya.
Dalam
ketidaksadarannya,
Jacky menyerang
semua pengunjung
diskotik sehingga
menimbulkan keonaran.
Semua rasa ketakutan,
perasaan kangen akan
orangtuanya, namun di
saat yang bersamaan
kebencian kepada
orangtuanya
berkecamuk menjadi
satu.
"Yang aku rasakan di
dalam lubuk hatiku yang
paling dalam
sebenarnya adalah
kesepian, sendirian,
merasa tidak punya
siapa-siapa, merasa diri
sendirian. Aku benar-
benar tidak ingin
mengingat masalah
keluargaku ataupun
masalah-masalah yang
lain. Aku hanya ingin fun
saja dan melupakan
semua masalah itu.
Kalau sedang memakai
drugs, aku benar-benar
bisa melebihi dari dosis
yang seharusnya,"
kisah Jacky.
Banyak hal-hal aneh
yang Jacky alami akibat
pengaruh obat yang
dikonsumsinya. Ia bisa
saja tahu-tahu melihat
taksi di dance floor,
atau melihat sosok
ayahnya dan berbicara
dengan ayahnya,
padahal sebenarnya itu
adalah orang lain yang
tidak dikenalnya. Karena
memang Jacky sendiri
tidak bertemu dengan
ayah kandungnya untuk
waktu yang cukup
lama. Belakangan Jacky
baru mengetahui kalau
ayah kandungnya
masuk penjara pada
saat itu. Di saat mabuk
itu, Jacky sebenarnya
sedang merindukan
sosok keluarganya
sehingga merekalah
yang sering muncul
dalam segala halusinasi
yang dialaminya.

--
BLESSING FAMILY CENTRE SURABAYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar